MKTIPIKOR.ID –18-08-2026 ,TASIKMALAYA – Program revitalisasi sekolah di Kota Tasikmalaya yang menggunakan sistem swakelola kini tengah menjadi sorotan tajam masyarakat. Sistem swakelola—yang seharusnya memberikan wewenang penuh kepada pihak sekolah dan komite untuk mengelola dana perbaikan secara mandiri—dikhawatirkan hanya menjadi “sandiwara” di lapangan jika fungsi pengawasan melempem.
Pemerintah Pusat menggelontorkan anggaran besar untuk memperbaiki berbagai fasilitas pendidikan yang rusak. Mulai dari ruang kelas yang bocor, bangku yang rapuh, hingga fasilitas sanitasi yang tidak layak. Langkah ini diambil demi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi para siswa.Namun, penerapan sistem swakelola ini memicu kekhawatiran dari berbagai pengamat pendidikan dan aktivis lokal. Sistem ini dinilai rawan disalahgunakan atau disetir oleh oknum tertentu di luar sekolah jika tidak dikawal dengan ketat.
Menolak Jadi Formalitas belaka
“Swakelola itu artinya sekolah yang pegang kendali, bukan malah jadi sandiwara di mana pihak sekolah hanya menjadi penandatangan dokumen, sementara proyeknya dikerjakan oleh pihak ketiga tersembunyi,” ujar salah satu perwakilan komite sekolah di Tasikmalaya yang enggan disebutkan namanya.
Beberapa poin krusial yang menjadi sorotan dalam pelaksanaan revitalisasi ini antara lain:
-
- Transparansi Anggaran: Papan informasi proyek harus dipasang jelas di lingkungan sekolah agar orang tua siswa dan masyarakat bisa ikut memantau.
- Kualitas Material: Pembelian bahan bangunan harus sesuai dengan standar yang ditentukan, bukan mencari keuntungan dengan membeli barang murah.
- Keterlibatan Masyarakat: Pekerja bangunan idealnya melibatkan warga sekitar sekolah untuk membantu perekonomian lokal.
Dinas Pendidikan Berjanji Perketat Pengawasan Merespons kekhawatiran tersebut, Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya menegaskan akan menurunkan tim monitoring secara berkala. Mereka berjanji tidak akan segan-segan menegur atau memberikan sanksi jika menemukan adanya manipulasi dalam proses swakelola ini.
Masyarakat berharap program revitalisasi ini benar-benar melahirkan gedung sekolah yang kokoh dan berkualitas, bukan sekadar proyek kejar tayang yang hasilnya cepat rusak dalam hitungan bulan.
Reporter : Edi Sahrudin






