Di Balik Megahnya FDP 2026: Penebaran Ikan Nila di Danau Poso Tuai Sorotan Pakar

Heboh Penebaran Ikan Nila di Danau Poso, Mantan Kadis Perikanan Angkat Bicara

Nasional229 Views

Di Balik Megahnya FDP 2026: Penebaran Ikan Nila di Danau Poso Tuai Sorotan Pakar.

//Heboh Penebaran Ikan Nila di Danau Poso, Mantan Kadis Perikanan Angkat Bicara

Mktipikor.id||POSO, SULAWESI TENGAH — Penyelenggaraan Festival Danau Poso (FDP) ke-26 Tahun 2026 yang berlangsung meriah pada 15–17 Oktober lalu menuai sorotan hangat dari publik. Di tengah kemegahan pertunjukan seni budaya kolosal yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), aksi pelepasan benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) oleh jajaran pemerintah daerah memicu perdebatan mengenai dampaknya terhadap keberlangsungan biota endemik Danau Poso.

 

Isu ini mengemuka setelah beberapa tokoh masyarakat, salah satunya Heiro Tumimomor, menyuarakan kekhawatirannya di media sosial terkait potensi ancaman ikan nila yang dikategorikan sebagai Spesies Asing Invasif (SAI) terhadap ekosistem air tawar purba tersebut.

Menanggapi keprihatinan publik, Ir. Yusak Mentara, M.Si.—mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Poso yang kini menjabat Kepala Dinas Sosial—memberikan penjelasan komprehensif untuk meluruskan perspektif serta mendudukkan persoalan secara ilmiah dan proporsional.

 

Dilema Ekonomi Nelayan vs Kekayaan Ekologis Purba.

 

Yusak Mentara menjelaskan bahwa kegiatan restocking (penebaran benih) yang dipimpin oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si. bersama Bupati Poso, dr. Verna G.M. Inkiriwang, M.PSDM. pada Jumat (16/10/2026) sejatinya dilandasi niat baik untuk mendorong kesejahteraan ekonomi masyarakat nelayan tangkap serta pemenuhan gizi protein hewani.

 

“Ikan introduksi seperti Nila memang menjadi pilihan praktis karena memiliki laju pertumbuhan cepat, tingkat kelangsungan hidup tinggi, dan pasokan benih yang mudah. Ini memberikan dampak ekonomi riil dan pasokan pangan yang stabil bagi masyarakat lingkar danau,” terang Yusak.

 

Namun, alumnus Manajemen Sumber Daya Perairan FPIK UNSRAT ini menegaskan bahwa Danau Poso bukan sekadar danau biasa. Sebagai danau purba yang diakui secara internasional, Danau Poso adalah mahakarya ekologis yang menyimpan keanekaragaman hayati langka yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia, seperti:

 

●Ikan Sidat / Sogili / Masapi (Anguilla marmorata & Anguilla celebesensis)

 

●Ikan Bungu / Payangka (Adrianichthys kruppi & Adrianichthys oophorus)

 

●Ikan Padi / Ricefish (Oryzias nigrimas & Oryzias orthorhamphus)

 

●Udang Kecil Endemik / Lamale (Caridina ensifera, dll.)

 

Laboratorium Alam Dunia yang Membutuhkan Solusi Berbasis Sains.

 

Signifikansi ekologis Danau Poso telah lama menarik perhatian dunia internasional, mulai dari kunjungan ilmiah Kaisar Jepang Akihito (saat berstatus Putra Mahkota) hingga riset intensif oleh para pakar Limnologi terkemuka dari IPB, Unsrat, Untad, hingga STIP Madani.

 

Secara teknis konservasi, penyebaran ikan introduksi tanpa kontrol ketat memang berisiko menimbulkan persaingan pakan, predasi terhadap telur/larva biota asli, hingga merusak lokasi pemijahan alami (spawning ground). Oleh karena itu, Yusak menekankan perlunya formulasi kebijakan perikanan yang bijaksana dengan memadukan riset ilmiah dan kearifan lokal (Sintuwu/Mosintuwu).

 

Rekomendasi Langkah Strategis ke Depan

Guna menjembatani kebutuhan ekonomi nelayan tanpa mengorbankan warisan ekologis, Yusak merumuskan empat langkah kunci bagi pemangku kebijakan:

 

1.Zonasi Pemanfaatan & Suaka Perikanan (Sanctuary): Menetapkan area khusus budidaya dan melindungi zona inti steril dari spesies introduksi agar habitat Ikan Sogili, Bungu, dan Udang Lamale tetap terjaga.

 

2.Budidaya Terkontrol: Mendorong skema Keramba Jaring Apung (KJA) ramah lingkungan secara terbatas dan terukur ketat.

 

3.Restocking Basis Konservasi: Memprioritaskan pembenihan dan pemuliaan spesies asli (native species) Danau Poso untuk pemulihan stok alami.

 

4.Sinergi Kelembagaan & Adat: Melibatkan Lembaga Adat, Perguruan Tinggi, Kelompok Nelayan, dan Pemerintah Daerah dalam memperkuat regulasi tata kelola danau.

 

“Momentum suksesnya FDP 2026 dan peran Duta Wisata Putri Danau Poso harus kita manfaatkan secara masif untuk menyuarakan pesan pelestarian. Danau Poso adalah laboratorium alam kebanggaan Bumi Sintuwu Maroso yang harus kita wariskan keindahannya hingga lintas generasi,” pungkas Yusak Mentara.(Arwis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *