PROGRAM MBG URUSAN DIATAS TINGGAL BAYAR, ASAL BAPAK SENANG, MESKI ANAK SEKOLAH KERACUNANA, DARI MBG [ Makan Bergizi Geratis ]

PENGUSAHA DAN OLIGARKI DIKLAIM MENGUNTUNGKAN, ANAK SEKOLAH JUSTRU KERACUNAN

Nasional50 Views

MK-TIPIKOR || JAKARTA, 19 Juli 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan untuk mendukung gizi generasi penerus justru memicu gelombang kemarahan luas. Para pengusaha dan kalangan oligarki yang diduga menjadi pihak paling diuntungkan dari proyek raksasa ini kini menjadi sasaran protes, hingga memicu aksi demonstrasi dari berbagai elemen masyarakat.

 

Kemarahan ini semakin meluas seiring bermunculannya laporan di berbagai daerah:

Ratusan anak sekolah penerima manfaat MBG dilaporkan mengalami sakit perut, mual, muntah, hingga gangguan pencernaan setelah mengonsumsi makanan yang disalurkan. Dugaan kuat menunjukkan masalah pada kualitas bahan baku, kebersihan pengolahan, hingga ketidaksesuaian standar gizi yang dijanjikan.

 

Di tengah keresahan orang tua siswa dan kekhawatiran dampak kesehatan anak-anak, muncul kecurigaan mendalam mengenai pengelolaan dana program. Pihak pengelola MBG dan Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) justru dinilai menikmati aliran dana besar tanpa kendali ketat. Sumber internal menyebut sikap santai yang kerap terlontar di lingkungan pengelola: “Asal Bapak Senang” – seolah-olah kepentingan pribadi dan kelompok pengusaha pemasok menjadi prioritas utama, sementara kesejahteraan anak-anak sekolah diabaikan.

 

“Anak kami sakit setelah makan program ini, tapi yang jelas-jelas menikmati keuntungan besar adalah pengusaha pemasok dan pihak pengelola.

Mereka tidak peduli apa yang terjadi pada anak-anak, asalkan urusan di atas berjalan lancar,” ujar salah satu pendemo di depan kantor pelaksana program.

 

Aksi unjuk rasa kini terus menyebar ke berbagai kota.

Masyarakat menuntut audit transparan aliran dana MBG, pemutusan kontrak dengan pihak yang lalai, serta penindakan tegas terhadap pengelola dan pengusaha yang memanfaatkan program sosial demi keuntungan pribadi.

Masyarakat menegaskan: tidak boleh ada kompromi ketika nyawa dan kesehatan anak-anak dipertaruhkan demi kepentingan segelintir orang.** Red…!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *